Selasa, 27 Desember 2011

KIHAJAR DEWANTARA DAN MUHAMMAD SYAFEI

KI HAJAR DEWANTARA
A. Sejarah KI Hajar Dewantara
Nama aslinya R.M Suwardi Suryadiningrat lahir di Jogjakarta pada tanggal 02 Mei 1889. beliau lahir dari keluarga bangsawan(cucu paku alam III) yang meninggalkan kebangsaannya untuk terjun dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia dan berjuang memperbaiki nasib rakyat, Ki hajar dewantara masuk sekolah dokter jawa di Jakarta sampai tingkat II.
Ki hajar dewantara memulai karier perjuangan di lapangan jurnalistik yang dipergunakan sebagai alat memberikan pendidikan politik kepada rakyat melalui tulisan-tulisannya yang berisi cita-cita perjuangnya,di harian Sedyo Utomo di Jakarta sebagaii pembantu,harian bahasa belanda “Middenjava”di Semarang. Kemudian pindah ke Bandung menjadi Koresponden “ De Expres” pimpinan Dowesdekker,dll. Harian De Expres dan majalah Het Tijdschrif di Bandung pimpinan Dowesdekker menjadi pelopor lahirnya partai politik “Indschepartji”yang merupakan partai politik pertama yang tujuannya adalah Indonesia merdeka yang berdaulat,demokrasi serta kewarganegaraannya yang tidak membedakan asal kebangsaannya, asal mengakuiindonesia sebagai tanah air dan kebangsaannya. Pada tahun 1913 partai ini dilarang oleh pemerintah hindia belanda karena memberikan kritikan tajam terhadap kebijaksanaan pemerintah colonial belanda pada peristiwa “Peringatan 100 Tahun Kemerdekaan Negeri Belanda dari Penjajahan Perancis Napoleon” pada tanggal 13 November 1913 dengan mewajibkan semua rakyat Indonesia turut merayakannya dan membiayainya dengan sokongan dari rakyat. Hal itu dirasa tidak sangat pantas. Oleh karena itu, Ki hajar dewantara bersama dokter Cipto Mangunkusumo pada permulaan Juli 1913, membentuk “Commite tot herdenking van Nederland Honderjarige Vrijheid” (panitia peringatan 100 tahun kemerdekaan Nederland yang disingkat “Komisi Bumiputera”), yang bermaksud menyatakan isi hati memprotes adanya perayaan kemerdekaan tersebut. Brosur protes yang dikeluarkan oleh Ki Hajar Dewantara berjudul “ als ik eens Nederlander was” atau seandainya aku seorang Belanda, yang pada intinya memprotes terhadap turut sertanya rakyat bumiputera yang dijajah merayakan kemerdekaan Negeri Belanda yang menjajahnya. Karena sangat tidak pantas.
Hidup Ki Hajar Dewantara dengan keluarga di pengasingan sangatlah susah karena tidak mendapat bantuan dari pemerintah Belanda dengan alasan tidak menuruti putusan pembuangan ke Bangka. Beliau menjadi redaktur majalah “Hindia Putera”, Yaitu majalah resmi “Indische Vereeniging”. Dan majalah De Indier dari Indische Partij. Serta terus membantu surat kabar di Indonesia. Selama di Negeri Belanda, Ki Hajar Dewantara Memperdalam Ilmu pendidikan melalui kursus-kursus tertulis dan kursus-kursus malam, sehingga mendapat akte guru dalam bidang jurnalistik, ia memperdalam pengetahuannya dari S. de Roode, pemimpin surat kabar “De Nieuwe Groene” dalam seni drama belajar dari ahli seni Herman Kloppers. Sesudah Empat tahun kurang satu hari, pada tanggal 17 Agustus 1917, putusan hukuman pembuangan Ki Hajar Dewantara dicabut, dan boleh kembali ke tanah air sebagai orang bebas. Setelah pulang dari pembuangan, Ki Hajar Dewan Tara kembali berjuang. Karena pidato dan tulisan-tulisannya yang tajam melancarkan kritikan terhadap pemerintahan Kolonial Belanda, maka Ki Hajar Dewantara dihukum dua kali, di semarang, pertama enam bulan dan kesua tiga bulan satu setengah tahun di semarang, kemudia pada tahun 1921 pindah ke Jogyakarta. Oleh pejuang politik dan ahli kebatinan yang bergabung dalam “sarasehan slasa Kliwon” di jogyakarta, yang terdiri atas R.M Sutatmo suryokusumo dan Ki Hajar Dewantara, di bahas cara-cara memperjuangkan kemerdekaan perjuangan-perjuangan harus didasari oleh jiwa merdeka dan jiwa rasional dari bangsa, dan untuk itu harus dimulai sejak dari anak-anak. Syaratnya adalah pendidikan nasional dan pendidikan merdeka, yang akan dapat memberi bekal kuat untuk perjuangan kemerdekaan nasional. maka diputuskanlah bahwa Ki Hajar Dewantara, Sutatmo Suryokusumo, Pronodigdo, Suryoputro bertugas di lapangan pendidikan anak-anak, Ki Ageng Suryomataram dan kawan-kawannya bertugas di lapangan pendidikan orangtua dengan melaiui gerakan kebatinan yang disebut "Ngelmu Begjo ", yang bercita-citakan kebahagiaan manusia dan perdamaian dunia. Langkah awal dimulai oleh Douwes Dekker yang pada tahun 1920 mendirikan "Ksatriaan Institut" di Bandung, sebuah sekolah ekonomi, atas dasar pertimbangan bahwa lapangan pendidikan ekonomi merupakan salah satu bidang yang sangat penting dalam perjuangan nasional Indonesia yang masih kurang mendapat perhatian. Setelah mempunyai pengalaman di perguruan "Adhidarmo" milik R.M Suryopranoto, kakaknya yang terkenal sebagai raja pemogokan, Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922, mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Jogyakarta. Sejak saat itu sampai akhir hayatnya 26 April 1959, Ki Hajar Dewantara memelihara dan mengasuhTaman Siswa. Selama itu, Ki Hajar Dewantara antara lain harus melawan "Wilde Scholen Ordonantie" (Ordonansi Sekolah Luar) yang sedianya akan diberlakukan mulai 10 Oktober 1932. Dengan keberanian dan penuh tanggung jawab, Ki Hajar Dewantara pada tanggal 1 Oktober 1S32 mengirim telegram penolakan kepada Gubenur Jenderal, yang menyatakan apabila ordonanssi tersebut jadi dilaksanakan, Taman Siswa akan mengadakan perlawanan terus dengan cara tenaga diam yang pada waktu itu terkenal dengan Lijdelijk verzet, membangkan tidak mengakui sahnya undang-undang Kolonial yang akan dipaksakan tersebut. Akhirnya ordonansi tersebut dicabut.
Karena jasa-jasanya, sejak saat akhir hidupnya sampai wafatnya, Ki Hajar Dewantara mendapat penghormatan dan penghargaan sebagai berikut:
  1. Ditetapkan Pemerintah R.I sebagai Perintis Kemerdekaan pada tanggal 8 Maret 1955.
  2. Mendapat gelar doktor honoris kausa dalam ilmu kebudayaan dari Universitas Gajah Mada pada tanggal 19 Desember 1956.
  3. Diangkat sebagai Perwira Tinggi anumerta dengan pemakaman negara secara militer pada waktu wafatnya, 26 April 1959.
  4. Diangkat oleh Presiden R.I sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 28 November 1959.
  5. Pemerintah R.I menetapkan hari kelahiran Ki Hajar Dewantara, 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, pada tanggal 16 Desember 1959.
  6. Presiden R.I menganugerahkan Bintang Mahaputera I kepada Ki Hajar Dewantara, pada tanggal 17Agustus 1960.
  7. Mendapat anugerah bintang Satya Lencana Ke merdekaan dari Pemerintah R.I pada tanggal 20 Mei 1961;
B. Dasar Filosofis
1. Nasionalisme
Ki Hajar Dewantara adalah seorang nasionalis yang berjuang untuk mencapai Indonesia merdeka. Sehubungan dengan hal ini, Bung Kamo dalam kata sambutan pada penerimaan gelar doktor honoris kausa oleh Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa Ki Hajar Dewantara bersama-sama dengan Douwes Dekker (Setia Budhi) dan Cipto Mangunkusumo adalah bapak politik nasionalisme Indonesia. Selanjutnya, Prof. Dr. Sarjito dalam pidato pemberian gelar doktor honoris kausa kepada Ki Hajar Dewantara dalam Ilmu Kebudayaan antara lain menyatakan Ki Hajar Dewantara adalah perintis kemerdekaan nasional, perintis pendidikan nasional, dan perintis kebudayaan nasional. Hal ini, menurut Prof. Dr. Sarjito, karena Ki Hajar Dewantara mengembangkan asas-asas sistem pendidikan yang dapat dipergunakan sebagai dasar dalam hidup kemasyarakatan. Asas-asas yang dimaksud oleh Prof. Dr. Sarjito adalah sebagai berikut: 1) asas "cultured nasionalisme" dapat dipakai sebagai dasar kesatuan bagi bangsa Indonesia yang corak kebudayaannya beraneka warna, dan keluar sebagai titik pertemuan dengan kebudayaan-kebudayaan di dunia; 2) asas "among" atau "tut wuri andayani", yang dapat dipakai sebagai dasar hubungan pihak penguasa dengan rakyat, hingga timbul pengertian timbal dalarn hidup demokrasi; 3) asas "selfbesehikkingrecht", atau hak untuk menentukan nasib sendiri; ini adalah pengakuan hak pribadi tiap-tiap orang untuk mengembangkan bebas bakatnya dan swadayanya; asas ini sekarang penting bagi bangsa kita sebagai keseluruhan maupun bagian-bagian Indonesia sebagai satuan-satuan swatantra; 4) asas "demokrasi" yang oleh Ki Hajar Dewantara diartikan "demokratic met leiderschap", yaitu tiap-tiap kebebasan ada batasnya dan perlu disalurkan dan dipimpin, pembatasan ini mencegah keterlanjuran (ekses-ekses, anarkie, dan sebagainya) dan mengharuskan adanya keseimbangan serta tata dan tertib; 5) asas "zelf bedruiping", yaitu membiayai diri sendiri dari sumber sendiri; asas ini mengharuskan adanya perhitungan dan kesederhanaan, yang penting juga bagi pelaksanaan swatantra; 6) asas "kekeluargaan", yang tidak saja berguna bagi alam pendidikan, tetapi juga bagi penghidupan ekonomi, sosial dan politik; asas ini akan lebih iklim saling mengerti dan bekerja sama di antara pihak-pihak yang berkepentingan; 7) asas "trikon" (konsentrisitas, konvergensi, kontinyu) disimpulkan bahwa nasionalisme yang dianut dan hendak diwujudkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah nasionalisme kebudayaan bertrikon, yaitu berakar pada kebudayaan sendiri yang terus berasimilasi dengan unsur-unsur budaya luar.
2. Developmentalisme
Pandangan pendidikan Ki Hajar Dewantara menganut paham Developmentalisme, hal ini antara lain terlihat pada asas taman siswa 1992 yang berisi tujuh prinsip pendidikan. Prinsip-prinsip tersebut yaitu : 1. Hak seorang akan mengatur dirinya sendiri (selfbesehikkingrecht) dengan mengingati tertibnya persatuan dalam kehidupan umum (maatschappelijke saamhoorigheid), itulah asas kita yang pertama.
kita anggap memperkosa hidup kebatinan anak. Yang kita pakai sebagai alat pendidikan ialah pemeliharaan dengan sebesar perhatian untuk mendapat tumbuhnya hidup anak, lahir dan batin menurut kodratnya sendiri. Inilah kita namakan "Among methode". 2. pengajaran berarti mendidik anak akan menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirannya dan merdeka tenaganya. Pengetahuan yang baik dan perlu yaitu yang manfaat untuk keperluan lahir dan batin dalam hidup bersama. 3. Tentang .zaman yang akan datang, maka rakyat kita ada di dalam kebingungan. 4. Dengan keadaban bangsa kita sendiri kita lalu pantas terhubungan bersama-sama dengan bangsa-bangsa asing. 5. Kekuatan bangsa dan negeri itu bergantung pada jumlah kekuatan orang-orangnya. Maka dari itu lebih baik memajukan pengajaran untuk rakyat umum dari pada mempertinggi pengajaran kalau usaha mempertinggi ini seolah-olah mengurangi tersebarnya pengajaran. 6. Untuk dapat berusaha menurut asas dengan bebas yang leluasa, maka kita harus bekerja menurut kekuatan sendiri. Itulah jalannya orang yang tak mau terikat atau terperintah pada kekuasaan karena berkehendak mengusahakan kekuatan diri sendiri. 7. Oleh karena itu kita bersandar pada kekuatan sendiri maka haruslah segala belanja dan usaha kita itu dipikul sendiri dengan uang pendapatan biasa. 8. Dengan kita terikat lahir atau batin, berniatlah kita berdekatan dengan sang alam. Kita tidak meminta sesuatu hak, akan tetapi menyerahkan diri untuk berhamba kepada sang anak. Setelah zaman kemerdekaan, dihasilkan panca darma yaitu lima dasar taman siswa, yaitu Kemerdekaan
3. Teori Pendidikan
Ki Hajar Dewantoro menyatakan bahwa taman siswa merupakan badan perjuangan yang berbadan nasional dan badan pembangunan masyarakat dan kebudayaan sebagai badan perjuangan, taman siswa mempunyai tugas mewujudkan sistem pendidikan dan pengajaran nasional. Fungsi kedua adaah membangun masyarakan dan kebudayaan dengan melalui pembangunan manusia-manusia yang merdeka lahir dan batin dan bersama-sama mewujudkan kebudayaan – kebangsaan yang berdasarkan adab kemanusiaan, sehingga setiap individu dapat memperoleh keselamatan dalam hidup lahiriyah dan bahagia dalam hidup batiniah
Ki Hajar Dewantoro mengartikan pendidikan sebagai proses pembudayaan kodrat alam. Pendidikan sebagai proses pembudayaan kodrat alam merupakan usaha memelihara dan memajukan serta mempertinggi dan memperluas kemampuan kodrati untuk mempertahankan hidup. Tujuan pendidikan yanag bersifat individual adalah individu-individu yang mencapai kemerdekaan lahir dan batin. Ki Hajar Dewantoro menyatakan bahwa cita-cita pendidikan Taman Siswa adalah membangun orang yang berfikir merdeka, ialah orang yang merdeka lahir dan batin. Hal-hal ini dapat dicapai apabila tertanam dalam diri setiap individu tiang-tiang kemerdekaan hidup, yang mencangkup memiliki :
1) Kecakapan panca-indera
2) Ketajaman berfikir
3) Kejernihan berperasaan
4) Kemantapan dan kuatnya kemauan dan tenaga, dan
5) Keluhuran budi pekerti
Jadi tujuan personal pendidikan adalah kokohnya tiang-tiang kemerdekaan hidup dalam diri setiap individu. Sedangkan tujuan sosial pendidikan adalah membangun secara bcrsama-sama oleh segenap individu-individu yang merdeka lahir dan batin, suatu masyarakat yang berkebudayaan-kebangsaan yang khas berdasarkan adab-kemanusiaan, sehingga terwujud kehidupan bersama yang tertib-damai. yang di dalamnya terdapat kemerdekaan pribadi, kebangsaan, dan kemanusiaan yang seimbang dan seiring sejalan.
c. Struktur Organisasi Persekolahan
Perguruan Nasional Taman Siswa mengembangkan semua jenjang pendidikan dari tingkat paling rendah sampai pendidikan tinggi. Adapun jenjang dan jenis pendidikan sebagai berikut :
1) Taman Indria
Jenjang ini bagi anak faerusia 5 atau 6 tahun. Pelajaran ditujukan terutama pada sempuraanya pekerjaan indera.
2) Taman Anak
Jenjang ini bagi anak berusia 6 atau 7 tahun sampai 9 atau 10 tahun. Hidup anak-anak ini masih dekat dengan ibu. Oleh karena itu guru-guru di jenjang ini sebaiknya guru-guru putri, atau jika tidak mungkin seluruhnya, guru laki-laki pun diperbolehkan asal sudah berpengalaman bergaul dengan anak-anak kecil (kelas I-II SD).
3) Taman Muda
Jenjang pendidikan ini bagi anak berusia 10 atau 11 tahun sampai 12 atau 13 tahun. Disini anak-anak telah mempunyai sifat Iain, kini mereka telah lebih suka kepada pimpinan ayah daripada ibu.Oleh karena itu, guru-gurunya sedapat mungkin adalah gum-gum laki-laki (kelas IV-VI SD)
4) Taman dewasa
Jenjang pendidikan ini bagi anak berusia 13 atau 14 tahun sampai 16 atau 17 tahun dan setaraf dengan tingkat pendidikan SLTP. Disamping itu ada Taman Dewasa Raya, yaitu jenjang pendidikan yang lama pendidikannya lima tahun setingkat dengan pendidikan SLTP dan SMU.
5) Taman Madya
Jenjang pendidikan bagi anak berusia 17 atau 18 tahun sampai 20 atau 21 tahun, yang setingkat dengan pendidikan SMU.
6) Taman Sarjana
Jenjang pendidikan bagi anak berusia 21 atau 22 tahun sampai 26 atau ?7 tahun, yang setingkat dengan pendidikan di universitas.
7) Taman Gutu
a) Taman Guru Indria, yaitu pendidikan untuk gadis-gadis tamatan Taman Dewasa atau sekolah lanjutan lainnya (SLTP), yang lama pendidikannya dua tahun. Setelah tamat mempunyai wewenang mengajar di Taman Indria, Taman Anak, dan Taman Muda;
b) Taman Guru B I, yaitu pendidikan gum Taman Anak dan Taman Muda, dengan lama pendidikan satu tahun sesudah Taman Dewasa. Tamatannya dapat pula melanjutkan ke Taman Guru B II;
c) Taman Guru BII, yaitu persiapan pendidikan guru Taman Dewasa. Lama pendidikan satu tahun, dan setelah tamat hams melanjutkanke Taman Gum B III;
d) Taman Guru B III, yaitu pendidikan gum Taman Dewasa dan Taan Madya. Disini diadakan diferensiasi, yaitu bagian A (Alam/Pasti) dan bagian B (Budaya). Lama pendidikan satu tahun.
8) Taman Karya
Jenjang pendidikan menengah kejuruan yang mempersiapkan tenaga kerja yang dibutuhkan masyarakat, yang setingkat dengan Taman Dewasa dan Taman Madya. Taman Karya ini antara lain mencakuo: Taman Masyarakat, Taman Tani, Taman Karti (Pertukangan), dan Taman Rini (Kewanitaan)
d. Isi Pendidikan
Isi pendidikan keseluruhan jenis pendidikan di Taman Siswa pada dasarnya kebudayaan yang dapat memelihara dan memajukan serta mempertinggi dan menyempurnakan pertumbuhan jiwa raga anak, sesuai dengan garis-garis kodrat alamnya. Isi seluruh pendidikan adalah segala bentuk kebudayaan lahir dan batin yang dapat memelihara dan memajukan serta mempertinggi dan menyempurnakan pertumbuhanjiwa raga anak sesuai dengan garis-garis kodratnya, yang berarti mampu mengembangkan :
1) Kecakapan panca-indera
2) Ketajaman berfikir
3) Kejernihan berperasaan
4) Kemantapan dan kuatnya kemauan dan tenaga, dan
5) Keluhuran budi pekerti
e. Metode Pendidikan
1) Sistem Among
Sistem ini diturunkan ari asas kodrat alam. Perkembangan kodrati ini hanya dapat dicapai dengan sistem among, yaitu sistem pendidikan dengan guru yang berperan sebagai pemong yaitu sebagai pemimpin yang berdiri dibelakang, dengan semboyang “Tut Wuri Handayani”, yaitu tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatankepada anak-anak didik untuk berjalan sendiri, tidak terus-menerus “dituntun” dari depan.
2) Penciptaan kehidupan dalam penyelenggaraan Taman Siswa yang sesuai dengan cita-cita Taman Siswa. Peraturan-peraturan Taman Siswa merupakan rincian lebih lanjut dari asas-asas dan dasar-dasar pendidikan Taman Siswa, yang tersusun berdasarkan pengalaman penyelenggaraan pendidikan Taman Siswa dan berfungsi sebagai pedoman teknis dalam penyelenggaraan pendidikan Taman Siswa. Sebagian dari peraturan-peraturan tersebut dinyatakan dalam bentuk semboyan-semboyan dan perlambang-perlambang agar mudah diingat dan diresapkan. Semboyan-semboyan dan perlambang tersebut adalah sebagai berikut:
a) Lawan Sastra Nesti Mulia, yang artinya bahwa Taman Siswa berdiri tahun Caka 1852 (1922 Masehi) dengan tujuan: dengan kecerdasan jiwa menuju ke arah kesejahteraan.
b) Suci Tata Ngesti Tunggal, yang artinya Persatuan Taman Siswa terjadi tahun Caka 1855 (1933), yang mengandung arti: dengan kesucian batin dan teraturnya hidup lahir kita mengejar kesempurnaan.
c) Tut wuri andayani, yang berarti mengikuti dibelakang memberi pengaruh. Maksudnya: jangan menarik-narik anak dari depan; biarkanlah mereka rnencari jalan sendiri; kalau anak-anak salah jalan, barulah si pamong boleh mencampuri dirinya.
d) Bibit, Bebet, Bebot, artinya bahwa faktor keturunan mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pembudayaan pertumbuhan anak.
e) Senyari bumi sedumuk batuk den lakoni taker pati, artinya dalam perebutan isteri (keturunan) dan tanah orang biasanya berani mempertaruhkan jiwanya. Maknanya dalam pendidikan mengandung arti bahwa pendidikan adalah proses pembudayaan insting kelanggengan hidup/mempertahankan keturunan, dan insting kelanggengan penghidupan/kekuatan jasmani.
f) Kita berhamba pada Sang Anak, artinya kita dengan ikhlas hati dan tidak terikat oleh ikatan apapun, mendekati sang anak untuk mengorbankan diri kepadanya.
g) Lebih baik mati terhormat dari pada hidup nista. Semboyan ini dipergunakan untuk menentang undang-undang sekolah liar zaman Kolonial Belanda.
h) Syari 'at tidak dengan hakikat adalah kosong. Hakikat tidak dengan syari 'at pasti batal. Artinya, untuk berhasil tidaK cukup memakai laku batin, namun harus juga mementingkan laku lahir. Suci batin dibarengi dengan tertibnya lahir
Di samping dinyatakan dalam semboyan, prinsip-prinsip pendidikan di Taman Siswa terdapat pula dalam adat-istiadat Taman Siswa, yang merupakan kebiasaan-kebiasaan yang diakui sebagai peraturan yang sah, sekali pun tidak tertulis. Adapun adat-istiadat tersebut mencakup:
a. Sebutan Ki, Nyi, dan Ni, dengan maksud untuk menciptakan demokrasi dalam pergaulan guru sehari-hari.
b. Hapusnya hubungan "majikan-buruh ", dengan maksud untuk menciptakan sosialisme atau menghilangkan adanya perbedaan kelas dalam hubungan kerja.
c. Kekeluargaan dalam pergaulan hidup di Taman Siswa, sebagai perwujudan dari demokrasi dan keadilan sosial yang berdasarkan perikemanusiaan dan kodrat alam.
d. Sebutan ibu dan bapak, merupakan perwujudan bahwa guru adalah pamong atau "orangtua" bagi murid-muridnya.
e. Demokrasi dan kepemimpinan (leader-ship), sebagai upaya untuk menghilangkan demokrasi Barat atau demokrasi setengah ditambah satu, dan diganti dengan demokrasi di bawah pembinaan kebijaksanaan.
f. Sebutan organisatoris dan organis, yang artinya bahwa organisatoris adalah menurut peraturan yang ada, sedangkan organis adalah tidak lahir tetapi hidup atau dinamis dalam menjalankan peraturan yang berlaku.
g. Adat-istiadat Kesusilaan merupakan "aturan-aturan" tentang berbagai macam ketertiban yang berkenaan dengan kesusilaan, yang belum pernah terbentuk sebagai peraturan resmi, tetapi terjadi dengan sendiri dan ditaati oleh segenap keluarga Taman Siswa di seluruh Indonesia. Adat-istiadat kesusilaan tersebut ada yang berkenaan dengan hidup kekeluargaan, hidup kemasyarakatan, perekonomian, rumah tangga, dan sebagainya, dan yang terpenting, karena merupakan suatu tiang tertib-damai, yaitu kesusilaan-kewanitaan.
f. Peranan Guru dan Murid
Menurut asas Taman Siswa yang ketujuh, guru haruslah berhamba kepada Sang Anak, dan bukan sebalik-nya murid berhamba kepada guru. Dalam penerapnnya, guru mempergunakan sistem among dan berperan sebagai seorang pamong.
Peranan guru dalam melaksanakan sistem among adalah:
1) Mengenali kodrat-iradatnya anak-anak murid dengan tidak melupakan segala keadaan yang mengelilinginya;
2) Memberi tuntunan dan menyokong anak-anak di dalam mereka bertumbuh dan berkembang karena kodrat-iradatnya sendiri;
3) Melenyapkan segala yang merintangi pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi karena kodrat-iradatnya sendiri; dan
4) Mendekatkan anak-anak kepada alam dan masyarakatnya.
Dalam menjalankan peranannya tersebut, guru berada dalam posisi-posisi yang berbeda-beda, yang pada dasarnya dapat dibedakan dalam tiga macam posisi, yaitu:
1) Tut wuri andayani, berdiri di belakang sambil terus memberi pengaruh;
2) Ing ngarso sung tulodo, berdiri di depan dengan memberi teladan atau contoh-contoh perilaku yang baik; dan
3) Ing madya mangun karso, berdiri di tengah dengan membangkitkan tekad, kemauan dan tenaga untuk mencapai tujuan pendidikan.
Dengan demikian jelas kiranya bahwa pendidikan sebagai proses pembudayaan pertumbuhan jiwa raga .anak segala kegiatannya harus berpusat pada kegiatan anak/murid sendiri. Anak/murid harus diberi kesempatan dan dibiasakan untuk mencari sendiri, sesuai dengan tingkat perkembangannya atau sesuai dengan garis-garis kodrat alamnya.
g. Pengaruh Ki Hajar Dewanlara dalam Perkembangan Pendidikan Nasional
Ki Hajar Dewantara adalah bapak Pendidikan Nasional Indonesia, karena merupakan orang pertama yang mendirikan Perguruan Nasional yang didasarkan pada konsep pendidikan yang berjiwa nasionalisme Indonesia yang bersifat kultural Disamping itu, beberapa konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara masih tetap dipergunakan dalam pcnye lenggaraan pendidikan nasional Indonesia zaman merdeka. Konsep pendidikan sebagai proses pembudayaan dipergunakan dalam Tap MPR No II/MPR/1988. Semboyan "Tut wuri andayani" dijadikan motto Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Prinsip mengutamakan pemerataan pendidikan dijadikan dasar pembangunan pendidikan. Perlunya sistem pengajaran nasional dijadikan isi salah satu ayat dari pasal pendidikan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Tetapi hal yang terpenting adalah jiwa nasionalisme. Ki Hajar Dewantara telah memberi corak dalam perkembangan pendidikan Nasional Indonesia.
C. PENDIDIKAN INS KAYUTANAM
1. Muhammad Syafei (1896-1966)
a. la lahir di Sumatera Barat pada tanggai 21 Januari 1896, dan mengenal karya-karya orang besar di dunia melalui ceritera yang disampaikan oleh ibu dan bapaknya. Selama duduk di Sekolah Guru di Bukit tinggi, Muhammad Syafei mendapat kiriman tulisan-tulisan dr. Cipto Mangunkusumo dan dr. Douwes Dekker dari orangtuanya. Hal ini membangkitkan rasa nasionalismenya, rasa cinta kepada bangsa dan tanah air.
b. Muhammad Syafei pernah mengajar di Sekolah Kartinidi Jakarta, dan memasukkan pelajaran pekerjaan tangan sebagai mata pelajaran fakultatif atau pilihan. Usaha ini mendapat dukungan dari Kepala Sekolah dan perkumpulan Sekolah Kartini. Usahanya berhasil, ternyata bahwa mata pelajaran pekerjaan tangan tidak menghambat pelajaran lainnya.
c. Pada tahun 1922, Muhammad Syafei meneruskan pelajaran ke Negeri Belanda dengan tujuan memperluas wawasan dan pengalaman, agar dapat menjavvab pertanyaan, bagaimanakah corak pendidikan dan pengajaran yang sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia yang dapat mencerdaskan otaknya? Setelah mempelajari, menyelami, dan mempertimbangkan baik-buruknya, sampailah pada kesimpulan bahwa pendidikan dan yang tepat diberikan kepada-bangsa Indonesia adalah pendidikan dan pengajaran yang mampu mengaktijkan murid. Berdasarkan keyakinan tersebut, Muhammad Syafei mendirikan sebuah sekolah dibcri nama Indonesische Nederland School (INS) di Kayutanam, Sumatera Barat pada tanggal 31 Oktober 1926. INS Kayutanam telah mengalami kehancuran fisik dalam tahun 1949 usaha membangun kembali sampai sekarang masih berhasil. Muhammad Syafei pernah menjadi Menteri Pengajaran dalam Kabinet Syahrir II, 12 Maret 1946-2 Oktober 1946.
2. Dasar Filosofis
a. Nasionalisme
Muhammad Syafei mendasarkan konsep pendidikannya pada nasionalisme dalam arti konsep dan praktek penyelenggaraan pendidikan INS Kayutanam didasarkan pada cita-cita menghidupkan jiwa bangsa Indonesia dengan cara mempersenjatai dirinya dengan alat daya upaya yang dinamakan aletif kreatif untuk menguasai alam. Semangat nasionalismenya yang sedang tumbuh menimbulkan pertanyaan, mengapa bangsa Belanda yang jumlahnya sedikit dapat menguasai bangsa Indonesia yang jumlahnya sangat besar. Pertanyaan ini dapat dipecahkan setelah berada dan hidup di tengah-tengah masyarakat Belanda. Ternyata bahwa faktor alam dan lingkungan masyarakat mempengaruhi jiwa manusia. Jelas kiranya bahwa nasionalisme Muhammad Syafei adalah nasionalisme pragmatis yang didasarkan pada agama, yaitu nasionalisme yang tertuju pada membangun bangsa melalui pendidikan agar menjadi bangsa yang pandai berbuat untuk kehidupan manusia atas segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan. Muhammad Syafei menyatakan bahwa Tuhan tidak sia-sia menciptakan manusia dan alam lainnya. Tiap-tiapnya mesti berguna, dan kalau ini tidak berguna hal itu disebabkan karena kita yang tidak pandai menggunakannya.
b. Developmentalisn. 
Pandangan pendidikan Muhammad Syafei sangat dipengaruhi oleh aliran Developmentalisme, terutama oleh gagasan sekolah kerja yang dikembangkan John Dewey dan George Kerschensteiner, serta pendidikan alam sekitar yang dikembangkan Jan Ligthart. John Dewey berpendapat bahwa pendidikan terarah pada tujuan yang tidak berakhir; pendidikan merupakan sesuatu yang terus berlangsung, suatu rekonstruksi pengalaman yang terus bertambah . geoorge kerchensteinner mendirikan “Arbeitschule” atau sekolah aktibitas ia mengartikan sekolah aktivitas sebagai sebuah sekolah yang membebaskan tenaga kreatif potensial dari anak. Menurut kerschensteiner, tugas pertama pendidikan adalah pengembangan warga negara yang baik, dan sekolah aktivitasnya berusaha mendidik warga negara yang berguna, dengan jalan :
1) Membimbing anak untuk bekerja menghidupi dirinya sendiri;
2) Menanamkan dalam dirinya gagasan bahwa setiap pekerjaan mempunyai tempatnya masing-masing dalam memberi pelayanan kepada masyarakat;
3) Mengajarkan kepada anak bahwa melalui pekerjaannya, ia akan memberikan sumbangan dalam turut serta membantu masyarakat untuk ke arah suatu kehidupan bersama yang lebih sembpurna.
Dalam hubungannya dengan latihan kewarganegaraan, Kerschensteiner menekankan perlunya pemerintahan-sendiri dari sekolah. la menyatakan bahvva pendidikan kewarganegaraan berhasil atau gagal berkenaan dengan ada tidaknya pemerintahan sendiri dalam pelaksanaan sekolah. Pemerintahan-sendiri dapat mengubah sekolah dari sebuah tempat berkembangnya ambisi perorangan menjadi sebuah tempat berkembangnya kerja sama sosial, dari sebuah tempat pengembangan pendidikan intelektual secara teoritis semata, menjadi sebuah tempat pengembangan kemampuan praktis dan pengembangan berbagai kemampuan, dari sebuah tempat pengembangan penguasaan pengetahuan menjadi sebuah tempat pengenibangan penerapan pengetahuan dalam kehidupan masyarakat. Gagasan dan model sekolah yang dikembangkan Kerschensteiner sangat mempengaruhi konsep dan praktek pendidikan Muhammad Syafei di INS Kayutanam. Jan Lightart memusatkan perhatiannya pada dua masalah, yaitu :
1) Mendorong agar aktivitas murid lebih besar, dan
2) Mengadakan pemilihan mata pelajaran yang lebih baik.
Jan Lightart mencoba menyebabkan murid-muridnya memahami lingkungan mereka, dan menunjukkan kepada mereka bagian-bagian yang memegang peranan dalam pekerjaan, Industri, Pertamanan, dan Pertanian. Bagi Jan Lightart sekolah dan hidup adalah seperti matahari dan langit, adalah satu dan tidak dapat dipisahkan. Ia menyatakan bahwa dunia hendanya dibawah dalam ruang sekolah. Alam, kerja, dan manusia adalah dasar-dasar dari metode pendidikan. Setiap tingkatan kelas dari 6 (enam) kelas di sekolah dasar dipusatkan pada sebuah belajar, yang terdiri atas :
1) Lingkungan alam sekitar sekolah dan kehidupan anak-anak petani;
2) Pangan dan papa (tempat tinggal), yang berkenaan dengan sumber-sumber pasokan dan proses penyiapan pangan dan papan;
3) Bahan-bahan bangunan dan geoiogi sederhana, berkenaan dengan peta-peta dan bagan-bagan kebun sekolah, Negeri Belanda, dan dunia;
4) Sayuran setempat, tanah dan industri, serta hubungan perdagangan dengan dunia luar;
5) Geografi, sejarah, dan ilmu kealaman; dan
6) Biologi, fisika, dan kimia sederhana.
Jan Lightan memberikan kebebasan kepada murid adalah kunci dari metode pendidikannya. Menurutnya, kebebasan merupakan suatu hak istimewa anak, melalui kebebasan tersebut anak belajar memahami makna tanggung jawab.
Menurut Jan Lightart, seorang guru haruslah memperlakukan murid dengan kasih sayang. Oleh katena itu, teori pendidikannya disebut pedagogik lemah lembut atau "soft pedagogy".
Konsep Jan Lightart tentang sekolah kerja yang menyelenggarakan pendidikan alam sekitar, sangat mempengaruhi konsep pendidikan Muhammad Syafei yang diterapkan dalam pendidikan INS Kayutanam.
3. Teori Pendidikan
a. Fungsi Pendidikan
Memiliki fungsi membantu manusia keluar sebagai pemenang dalam perkembangan kehidupan dan persaingan dalam penyempurnaan hidup lahir dan batin antar bangsa.Pendidikan berfungsi sebagai instramen yang digunakan manusia dalam mengarungi evolusi kehidupan.
Manusia dan bangsa yang dapat bertahan ialah manusia dan bangsa yang dapat mengikuti perkem bangan masyarakat atau zamannya. Untuk kepentingan ini ia mengusulkan konsep sekolah kerja atau sekolah kehidupan atau sekolah masyarakat.
b. Tujuan Personal Pendidikan
1) Tujuan pendidikan dan pengajaran adalah mem bentuk secara terus-menerus kesempurnaan lahir dan batin anak agar anak dapat mengikuti perkembangan masyarakat yang selalu mengalami perubahan atau kemajuar.
Sejarah peradaban manusia menunjukkan hal ini, yaitu perubahan dari tingkat hewani dan primitif menuju ke tingkat yang lebih maju, sangatlah hebat (Thalib Ibrahim, 1978:24-25).
2) Pemikiran Syafei menyarankan kesempurnaan hidup lahir dan batin yang harus selaludiperbaharui. Hal ini terungkap dalam pemikiran G. Revesz seperti yang dikutip oleh Syafei: "bahwa lapangan pendidikan mesti berubah menurut zamannya, seandainya orang masih beranggapan, bahwa susunan pendidikan dan pengajaran yang berlaku sekarang adalah sebaik-baiknya dan tidak akan diubah lagi, maka orang atau lembaga yang berpendirian dan berpikir demikian telah jauh menyimpang dari kebenaran."
Demikianlah, tujuan pendidikan berupa kesempurnaan lahir dan batin, harus selalu terus disempurnakan sesuai dengan tuntutan pembahan zaman. Pemikirannya ini hasil refleksinya atas kondisi bangsanya yang terjajah, bangsa dengan alam yang kaya-raya dan penduduk berjumlah banyak dijajah oleh bangsa Belanda yang jumlah penduduknya sedikit, dan sumber alamnya tak terbatas.
Berdasarkan ini, Syafei sampai pada kesimpulan bahwa kesempumaan lahir dan batin itu berbentuk manusia yang aktif kreatif Dengan kata lain, manusia yang sernpurna lahir dan batin itu ialah manusia yang aktif kreatif dalam menghadapi lingkungan mereka dan perubahan masyarakat.
3) Manusia yang sempurna lahir dan batin atau aktif kreatif itu, apa saja unsur-unsur atau aspek-aspeknya? la menyatakan bahwa, yaitu jiwa dan hati yang terlatih dan otak yang berisi pengetahuan (Thalib Ibrahim, 1978: 20)
4) Tujuan pendidikan menurut Syafei dapat dideskripsikan dengan ringkas sebagai berikul: Manusia yang sempurna lahir dan batin karena jiwa dan hatinya terlatih dan otaknya berisi konsep konsep ilmu, hingga ia berbuat aktif kreatif da lam menghadapi lingkungannya.
c. Kurikulum
1) Kurikulum yang dikembangkan Moh. Syafei merupakan kurikulum untuk pendidikan dasar Dengan demikian dan segi ini, kurikulum pendidikan dasarnya terdiri atas kurikulum pendidikan dasar dan kurikulum pendidikan prasekolah. Adapun dari segi tujuan personal pendidikan, kurikulumnya, terdiri atas pendidikan umum dan pendidikan kejuruan. Pendidika kejuruan disebutnya sebagai pelajaran pekerjaan tangan. Apa yang menjadi pusat dari seluruh kurikulumnya adalah pelajaran pekerjaan tangan. Hal ini sesuai dengan pandangannya bahwa perbuatan atau aktivitas adalah saluran terbaik pengetahuan menuju jiwa atau kesadaran seseorang.